PANEMBANGAN – Pemerintah Desa Windujaya, Kecamatan Kedungbanteng, Kabupaten Banyumas, melakukan kunjungan studi banding ke Desa Panembangan, Kecamatan Cilongok, Kamis (8/10/2026). Kunjungan tersebut bertujuan meningkatkan kapasitas aparatur pemerintah desa dalam tata kelola pemerintahan, pengembangan potensi lokal, serta pengelolaan desa wisata.
Rombongan Pemerintah Desa Windujaya diterima langsung oleh Kepala Desa Panembangan, H. Untung Sanyoto, S.Pd., bersama tim Smart Fisheries Village (SFV), Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis), pengelola BUMDes Sangkara Panembangan, dan perangkat Desa Panembangan.
Rombongan yang berjumlah 10 orang tersebut terdiri dari satu kepala desa dan sembilan perangkat desa. Kunjungan ini menjadi momentum untuk bertukar pengalaman mengenai strategi pembangunan desa, pengelolaan potensi lokal, serta pengembangan pariwisata berbasis masyarakat.
Kepala Desa Panembangan, H. Untung Sanyoto, S.Pd., menyambut baik kunjungan tersebut. Menurutnya, studi banding antardesa menjadi kesempatan untuk saling belajar dan berbagi pengalaman dalam membangun desa.
“Kami menyambut baik kunjungan Pemerintah Desa Windujaya ke Panembangan. Bagi kami, kegiatan seperti ini bukan sekadar kunjungan studi banding, tetapi juga menjadi ruang untuk saling belajar, bertukar pengalaman, dan berbagi praktik baik dalam membangun desa,” ujar Untung.
Pelajari tata kelola dan pengembangan potensi desa
Berdasarkan surat permohonan kunjungan studi banding Pemerintah Desa Windujaya Nomor 000.7/284/X/2026 tertanggal 6 Oktober 2026, Desa Panembangan dipilih sebagai lokasi pembelajaran karena dinilai berhasil membangun, mengelola, dan menggerakkan perekonomian masyarakat melalui sektor pariwisata.
Dalam surat tersebut, Pemerintah Desa Windujaya menyampaikan bahwa kunjungan difokuskan pada pemahaman mengenai peran pemerintah desa dalam regulasi, kebijakan anggaran, strategi pengembangan potensi lokal, serta tata kelola desa wisata.
Melalui pertemuan ini, rombongan diharapkan memperoleh gambaran mengenai bagaimana pemerintah desa bersama kelembagaan dan kelompok masyarakat dapat mengoptimalkan potensi wilayah untuk mendukung pembangunan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Desa Panembangan sendiri mengembangkan pendekatan integrasi potensi pertanian, perikanan, dan pariwisata melalui konsep Smart Fisheries Village (SFV). Pendekatan tersebut melibatkan berbagai unsur, termasuk kelompok perikanan, Pokdarwis, dan BUMDes Sangkara, dalam upaya mengembangkan potensi ekonomi desa.
Kolaborasi menjadi kunci pengembangan desa
Untung mengatakan, pengembangan potensi desa membutuhkan keterlibatan berbagai pihak. Pemerintah desa tidak dapat bekerja sendiri tanpa dukungan kelembagaan desa dan partisipasi masyarakat.
“Pengembangan potensi desa tidak bisa dilakukan oleh pemerintah desa saja. Diperlukan kolaborasi antara pemerintah desa, Pokdarwis, BUMDes, kelompok masyarakat, dan seluruh pemangku kepentingan. Harapannya, pengalaman yang dibagikan dalam kunjungan ini dapat menjadi inspirasi bagi Desa Windujaya untuk mengembangkan potensi yang dimiliki sesuai dengan karakteristik wilayahnya,” katanya.
Keterlibatan tim SFV, Pokdarwis, BUMDes Sangkara, dan perangkat desa dalam menerima rombongan menjadi bagian penting dari proses pertukaran pengetahuan tersebut. Setiap unsur memiliki peran dalam mendukung pengembangan potensi lokal, mulai dari penguatan sektor produktif hingga pengelolaan kegiatan pariwisata.
Bagi Pemerintah Desa Windujaya, kunjungan ini diharapkan menjadi bekal untuk merumuskan strategi pembangunan yang sesuai dengan kondisi dan kebutuhan masyarakat setempat.
Perkuat jejaring antardesa
Studi banding antardesa tidak hanya menjadi sarana untuk melihat praktik pengelolaan desa lain, tetapi juga membuka peluang kerja sama dan pertukaran gagasan dalam menghadapi tantangan pembangunan.
Melalui kegiatan ini, Desa Panembangan dan Desa Windujaya diharapkan dapat memperkuat hubungan antarpemerintah desa, berbagi pengalaman dalam tata kelola pemerintahan, serta mendorong pemanfaatan potensi lokal secara berkelanjutan.
Kolaborasi antara pemerintah desa, kelembagaan masyarakat, dan pelaku usaha desa menjadi salah satu aspek penting dalam menciptakan pembangunan yang berdampak langsung bagi masyarakat.
Kunjungan studi banding tersebut sekaligus menegaskan pentingnya pembelajaran antardesa sebagai upaya meningkatkan kapasitas aparatur pemerintahan, memperkuat pengelolaan desa wisata, dan mendorong terwujudnya desa yang mandiri serta berdaya saing.

