Cilongok, Banyumas — Keanekaragaman hayati merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari, termasuk berbagai jenis tumbuhan, serangga, dan biji-bijian yang dapat ditemukan di lingkungan sekitar. Namun, keberadaan berbagai objek hayati tersebut
belum tentu membuat siswa dapat mengenali dan memahami karakteristiknya secara langsung. Pembelajaran Biologi akan menjadi lebih kontekstual ketika siswa tidak hanya memperoleh materi melalui penjelasan di kelas, tetapi juga dapat mengamati objek secara nyata. Melihat pentingnya pengenalan lingkungan sekitar dalam pembelajaran, mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKN–T) IPB University menghadirkan program Pojok Galeri Hayati di SMP Negeri 2 Cilongok, Kabupaten Banyumas.
Program Pojok Galeri Hayati dilaksanakan pada 5 Agustus 2026 dengan sasaran utama siswa dan guru SMP Negeri 2 Cilongok. Program ini dirancang sebagai upaya menyediakan media pembelajaran Biologi yang dapat dimanfaatkan dalam kegiatan belajar mengajar maupun digunakan siswa secara mandiri. Pojok Galeri Hayati tidak dirancang sebagai museum, melainkan sebagai suatu pojok pembelajaran yang memungkinkan siswa membaca informasi sekaligus mengamati berbagai koleksi hayati yang telah disediakan. Kehadiran media tersebut diharapkan dapat membantu siswa mengenali keanekaragaman hayati yang dekat dengan kehidupan mereka.
Pojok Galeri Hayati menyediakan beberapa media pembelajaran berupa tiga herbarium, lima vial koleksi serangga, dan enam vial koleksi biji-bijian. Masing-masing koleksi dilengkapi dengan poster informatif yang berisi penjelasan mengenai objek yang diamati. Dengan demikian, siswa tidak hanya melihat spesimen yang tersedia, tetapi juga memperoleh informasi mengenai karakteristik, klasifikasi sederhana, fungsi, serta proses biologis yang berkaitan dengan objek tersebut. Konsep tersebut menjadikan koleksi sebagai media visual dan konkret yang dapat mendukung pembelajaran Biologi.
Salah satu media yang disediakan adalah herbarium, yaitu koleksi spesimen tumbuhan yang telah dikeringkan dan diawetkan sehingga dapat digunakan sebagai referensi untuk mengenali dan mengidentifikasi tumbuhan. Melalui poster pendamping, siswa diperkenalkan dengan cara mengamati tumbuhan berdasarkan bagian akar, batang, daun, bunga, serta buah atau biji.
Karakter yang dapat diamati meliputi jenis akar, bentuk dan percabangan batang, bentuk serta tipe tulang daun, hingga karakter bunga dan buah. Siswa juga diperkenalkan dengan tipe habitat tumbuhan, seperti xerofit yang hidup di lingkungan sangat kering, mesofit pada lingkungan dengan kondisi air sedang, higrofit pada lingkungan lembap atau basah, serta hidrofit yang hidup di lingkungan perairan.
Selain tumbuhan, Pojok Galeri Hayati menyediakan lima vial koleksi serangga sebagai media untuk mengenalkan keragaman serangga kepada siswa. Poster pendamping memperkenalkan bagian tubuh serangga, seperti kepala, mata majemuk, antena, toraks, abdomen, serta bagian tempat melekatnya kaki dan sayap. Siswa juga dapat mengenal berbagai tipe mulut serangga, seperti tipe penggigit, penghisap, penjilat, serta tipe yang berkaitan dengan proses penyerbukan. Materi tersebut kemudian dikaitkan dengan peran serangga dalam ekosistem, mulai dari membantu penyerbukan, menguraikan sisa makhluk hidup, memangsa hama, hingga menjadi organisme yang dapat merusak tanaman. Koleksi juga dilengkapi pengenalan beberapa ordo serangga dan tahapan metamorfosis untuk memperluas pemahaman siswa mengenai kehidupan serangga.
Media berikutnya berupa enam vial koleksi biji-bijian yang digunakan untuk mengenalkan biji sebagai salah satu bagian penting dalam siklus hidup tumbuhan. Koleksi biji disajikan secara langsung sehingga siswa dapat mengamati keragaman bentuk dan karakter biji yang terdapat pada koleksi. Poster pendamping digunakan untuk membantu siswa memahami informasi mengenai tipe biji serta proses pertumbuhan biji hingga menjadi tumbuhan.
Dengan adanya media tersebut, materi mengenai biji yang sebelumnya dapat bersifat abstrak dalam pembelajaran menjadi lebih mudah diamati melalui objek nyata. Seluruh media dalam Pojok Galeri Hayati dirancang untuk memberikan pengalaman belajar yang lebih dekat dengan objek Biologi. Poster berfungsi sebagai pendamping bagi setiap koleksi sehingga siswa dapat menghubungkan objek yang diamati dengan konsep yang dipelajari. Guru juga dapat memanfaatkan herbarium, vial serangga, dan vial biji-bijian sebagai media pendukung ketika menyampaikan materi IPA maupun Biologi. Di sisi lain, siswa dapat membaca informasi dan mengamati koleksi secara mandiri ketika berada di area Pojok Galeri Hayati.
Penyediaan media pembelajaran tersebut juga sejalan dengan karakter SMP Negeri 2 Cilongok sebagai sekolah Adiwiyata atau sekolah yang berwawasan lingkungan. Keberadaan Pojok Galeri Hayati diharapkan dapat memperkuat proses pengenalan lingkungan melalui objek-objek hayati yang berada di sekitar siswa. Melalui media tersebut, keanekaragaman hayati tidak hanya dipahami sebagai materi dalam buku pelajaran, tetapi juga dapat dikenali melalui tumbuhan, serangga, dan biji-bijian yang menjadi bagian dari lingkungan sekitar. Hal ini juga sejalan dengan salah satu fungsi herbarium yang dapat membantu mengenali berbagai jenis tumbuhan sekaligus mendukung pembelajaran IPA dan dokumentasi keanekaragaman hayati lokal.
Melalui program Pojok Galeri Hayati, mahasiswa KKN–T IPB University menyediakan 14 koleksi biologis yang terdiri atas tiga herbarium, lima vial koleksi serangga, dan enam vial koleksi biji-bijian, beserta poster informatif sebagai media pendukung pembelajaran. Media tersebut diberikan untuk dapat dimanfaatkan oleh siswa dan guru SMP Negeri 2 Cilongok dalam kegiatan pembelajaran Biologi. Penyediaan media ini diharapkan tidak hanya menjadi hasil kegiatan KKN–T, tetapi juga dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan sebagai bagian dari fasilitas belajar di lingkungan sekolah.
Pojok Galeri Hayati menjadi salah satu bentuk kontribusi mahasiswa KKN–T IPB University dalam menyediakan media pembelajaran Biologi yang lebih konkret dan kontekstual bagi siswa SMP Negeri 2 Cilongok. Melalui kegiatan mengamati, mengenali, dan membaca informasi mengenai berbagai koleksi hayati, siswa diharapkan dapat memiliki pemahaman yang lebih dekat mengenai keanekaragaman hayati di lingkungan mereka. Kehadiran media tersebut juga diharapkan dapat mendukung guru dalam menciptakan pembelajaran yang lebih menarik serta memperkuat karakter sekolah sebagai lingkungan belajar yang peduli terhadap keanekaragaman hayati dan lingkungan.