BANYUMAS — Inovasi pelayanan kesehatan masyarakat dari Desa Panembangan, Kecamatan Cilongok, Kabupaten Banyumas, kembali mendapatkan pengakuan di tingkat nasional. Isna Farida, kader Posyandu Hapsari 4, berhasil lolos Seleksi Tahap 1 17th Satu Indonesia Awards 2026 pada Kategori Desa Sejahtera Astra, bidang Kesehatan – Tokoh Penggerak Bidang Kesehatan (Individu).
Dalam pengumuman resmi Satu Indonesia Awards 2026, nama Isna Farida tercatat sebagai peserta dari Desa Panembangan, Kabupaten Banyumas, binaan PT Astra International Tbk.
Ia diusung melalui inovasi bertajuk “Inovasi Tape Ketan Rangkas (Pembuatan Alat Peraga Edukasi (APE) dari Kreasi Pemanfaatan Barang Bekas), Inovasi Ketan Tempe Ragi dan Buah Bestari di Posyandu Hapsari 4 Desa Panembangan.”
Capaian tersebut menjadi bukti bahwa inovasi kesehatan berbasis masyarakat tidak selalu lahir dari fasilitas dengan teknologi tinggi. Di Panembangan, perubahan justru tumbuh dari kreativitas kader dalam membaca persoalan sehari-hari dan mengubah keterbatasan menjadi peluang.
Ketika Barang Bekas Menjadi Media Edukasi
Salah satu inovasi yang diusung Isna adalah Tape Ketan Rangkas, sebuah pendekatan kreatif dalam membuat Alat Peraga Edukasi (APE) dengan memanfaatkan barang bekas.
Gagasan tersebut memiliki dua dimensi sekaligus. Di satu sisi, barang yang sebelumnya dianggap tidak bernilai diolah menjadi media pembelajaran. Di sisi lain, anak-anak memperoleh sarana edukasi yang lebih menarik dan dekat dengan lingkungan mereka.
Pendekatan semacam ini memperlihatkan bahwa kader Posyandu tidak hanya berperan dalam pelayanan kesehatan rutin. Mereka juga dapat menjadi penggerak literasi, edukasi, kreativitas, sekaligus kepedulian lingkungan di tingkat masyarakat.
Bagi Isna, pemanfaatan barang bekas bukan sekadar persoalan mengurangi sampah. Material yang tersedia di sekitar masyarakat justru dapat dikonversi menjadi media pembelajaran yang bernilai guna.
Ketan Tempe Ragi, Mengolah Potensi Lokal untuk PMT
Inovasi lainnya adalah Ketan Tempe Ragi, yang dikembangkan sebagai bagian dari upaya meningkatkan kreativitas penyediaan makanan tambahan di Posyandu.
Gagasan tersebut berangkat dari kebutuhan menghadirkan makanan tambahan yang tidak hanya menarik bagi anak, tetapi juga memanfaatkan bahan pangan yang mudah diperoleh masyarakat.
Pendekatan berbasis pangan lokal menjadi penting dalam pemberdayaan masyarakat karena memungkinkan keluarga dan kader untuk mengenali bahwa pemenuhan kebutuhan gizi dapat dilakukan dengan memanfaatkan sumber daya yang ada di lingkungan sekitar.
Dengan demikian, Posyandu tidak hanya menjadi tempat pelayanan kesehatan, tetapi juga ruang belajar bagi masyarakat mengenai pola konsumsi, kreativitas pangan, dan pemanfaatan potensi lokal.
Buah Bestari: Sampah Menjadi Investasi Kesehatan Anak
Inovasi yang tidak kalah menarik adalah BUAH BESTARI, akronim dari Tabungan Sampah Balita Sehat Hapsari.
Melalui konsep tersebut, aktivitas pengelolaan sampah dikaitkan dengan kepedulian terhadap kesehatan dan tumbuh kembang balita.
Sampah yang dikumpulkan memiliki nilai ekonomi dan kemudian dikembangkan menjadi bagian dari gerakan pemberdayaan masyarakat. Konsep ini menciptakan hubungan yang menarik antara lingkungan, ekonomi keluarga, dan kesehatan anak.
Pendekatan tersebut memperluas makna Posyandu. Kegiatan kesehatan tidak berhenti pada penimbangan atau pemberian makanan tambahan, tetapi berkembang menjadi gerakan yang melibatkan keluarga dan masyarakat secara lebih luas.
Isna dan Transformasi Peran Kader Posyandu
Lolosnya Isna Farida pada kategori Tokoh Penggerak Bidang Kesehatan (Individu) menjadi pencapaian penting bagi Desa Panembangan.
Sebelumnya, kiprah Isna juga telah mendapat sejumlah apresiasi di tingkat lokal dan daerah. Namun, masuknya inovasi yang dijalankannya dalam Seleksi Tahap 1 Satu Indonesia Awards 2026 memberikan ruang yang lebih luas bagi praktik baik Posyandu Hapsari 4 untuk dikenal di tingkat nasional.
Yang menarik, tiga inovasi tersebut memiliki benang merah yang kuat: memanfaatkan sumber daya sederhana untuk menghasilkan dampak sosial yang lebih besar.
Barang bekas menjadi alat edukasi. Potensi pangan lokal dikembangkan menjadi makanan tambahan. Sementara sampah rumah tangga diarahkan menjadi instrumen pemberdayaan keluarga.
Di titik inilah peran kader kesehatan mengalami perluasan. Kader bukan lagi sekadar pelaksana kegiatan Posyandu, tetapi menjadi penggerak perubahan sosial yang mampu menghubungkan isu kesehatan dengan pendidikan, lingkungan, pangan, dan pemberdayaan ekonomi masyarakat.
Panembangan Kembali Menorehkan Prestasi
Keberhasilan Isna Farida melengkapi capaian Desa Panembangan pada ajang yang sama. Sebelumnya, Agus Priyanto juga tercatat lolos Seleksi Tahap 1 pada bidang kewirausahaan melalui inovasi Smart Fisheries Village (SFV) Svarga Minapadi.
Dua nama dari desa yang sama tersebut menunjukkan spektrum inovasi Panembangan yang cukup luas. Jika SFV Svarga Minapadi bergerak pada penguatan ekonomi dan ekosistem perdesaan, inovasi Isna Farida menempatkan kesehatan, tumbuh kembang anak, lingkungan, dan pemberdayaan keluarga sebagai pusat perubahan.
Keduanya memiliki satu kesamaan: pembangunan desa bertumpu pada kekuatan masyarakatnya sendiri.
Menanti Penjurian Tahap 2
Kelolosan Seleksi Tahap 1 menjadi awal dari tahapan berikutnya. Berdasarkan informasi panitia, seluruh peserta yang lolos akan mendapatkan informasi mengenai jadwal dan teknis Penjurian Tahap 2, yang dijadwalkan berlangsung secara online pada 1–2 September 2026.
Bagi Isna Farida dan Posyandu Hapsari 4, tahap tersebut menjadi kesempatan untuk menunjukkan bahwa inovasi sederhana yang lahir dari aktivitas sehari-hari dapat memberikan dampak nyata ketika dilakukan secara konsisten dan melibatkan masyarakat.
Prestasi ini sekaligus membawa pesan penting dari Panembangan: kesehatan masyarakat dapat dibangun bukan hanya melalui layanan, tetapi melalui kreativitas, kolaborasi, dan keberanian kader untuk menciptakan solusi dari apa yang tersedia di sekitarnya.
Dari barang bekas lahir media edukasi. Dari pangan lokal lahir inovasi makanan tambahan. Dari sampah lahir gerakan pemberdayaan.
Dan dari tangan seorang kader, Posyandu Hapsari 4 Panembangan kini membawa inovasi kesehatan desa menuju panggung nasional.

