PANEMBANGAN, BANYUMAS — Denting gitar, hentakan drum, dan suara vokal yang mengalun dari panggung Panembangan Festival, Sabtu (22/8/2026) sore, bukan sekadar menjadi hiburan bagi warga. Penampilan Parakuli Band menjadi penanda bahwa kreativitas musik dari kampung masih mampu bertahan, tumbuh, dan menemukan ruang di tengah perayaan masyarakat desa.
Band yang berasal dari Grumbul Tawanggati, RW 002, Desa Panembangan, Kecamatan Cilongok, Kabupaten Banyumas, itu tampil membawa energi khas musik lokal. Penampilan mereka sekaligus memperlihatkan bagaimana sebuah kelompok musik yang lahir dari lingkungan masyarakat mampu mempertahankan eksistensinya selama lebih dari satu dekade.
Parakuli Band berdiri sejak 2010. Selama 16 tahun, kelompok tersebut terus menjadi bagian dari perjalanan musik dan kehidupan sosial masyarakat Tawanggati.
Di atas panggung Panembangan Festival, Parakuli Band diperkuat oleh Suyatno sebagai vokalis, Riyanto dan Wahyu pada gitar, Trio pada bass, serta Suyanto sebagai drummer.
Formasi tersebut menjadi kekuatan tersendiri bagi Parakuli Band. Masing-masing personel tidak hanya memainkan instrumen, tetapi juga membawa pengalaman panjang dalam menjaga keberlangsungan sebuah band yang tumbuh dari lingkungan masyarakat.
Dari Kampung, Menembus Panggung Festival
Bagi Parakuli Band, panggung Panembangan Festival bukan semata-mata tempat untuk menunjukkan kemampuan bermusik. Penampilan tersebut menjadi kesempatan untuk memperkenalkan potensi kreatif masyarakat desa kepada khalayak yang lebih luas.
Keberadaan band lokal seperti Parakuli juga menunjukkan bahwa geliat kesenian di desa tidak selalu harus lahir dari institusi besar. Kreativitas dapat tumbuh dari ruang-ruang sederhana, dari pertemanan, lingkungan kampung, hingga komunitas masyarakat yang memiliki kesamaan minat.
Selama bertahun-tahun, musik menjadi salah satu cara bagi para personel Parakuli Band untuk menjaga hubungan sosial sekaligus menyalurkan ekspresi.
Hal itu pula yang membuat keberadaan Parakuli memiliki arti lebih dari sekadar sebuah kelompok musik.
Mereka adalah bagian dari ekosistem budaya masyarakat Panembangan.
Musik sebagai Ruang Regenerasi
Panembangan Festival yang digelar pada 22–26 Agustus 2026 memberikan ruang bagi berbagai potensi masyarakat untuk tampil. Kehadiran Parakuli Band menjadi salah satu contoh bahwa festival desa dapat berfungsi sebagai ruang bertemunya berbagai generasi dan ekspresi kreatif.
Di tengah perubahan selera musik dan perkembangan teknologi digital, keberlangsungan band lokal selama 16 tahun bukan perkara sederhana. Dibutuhkan konsistensi, kekompakan, serta kemampuan untuk menjaga semangat berkarya.
Karena itu, penampilan Parakuli Band juga menyimpan pesan penting tentang ketahanan komunitas.
Musik tidak hanya berbicara tentang nada dan irama. Di tingkat masyarakat, musik dapat menjadi medium untuk mempererat hubungan, membangun kebanggaan terhadap lingkungan sendiri, sekaligus membuka ruang bagi generasi muda untuk melihat bahwa berkarya dapat dimulai dari desa.
Ketika Panggung Desa Menjadi Panggung Kebanggaan
Sorotan terhadap Parakuli Band pada Panembangan Festival pada akhirnya bukan hanya tentang siapa yang tampil di atas panggung. Lebih jauh, penampilan tersebut menggambarkan bagaimana sebuah komunitas mampu mempertahankan identitas kreatifnya di tengah perubahan zaman.
Dari Grumbul Tawanggati, Parakuli Band menunjukkan bahwa perjalanan panjang sebuah kelompok musik tidak selalu harus dimulai dari panggung besar.
Kadang, semuanya berawal dari kampung sendiri—dari sekelompok anak muda yang memiliki kecintaan terhadap musik, kemudian bertahan melewati waktu, hingga akhirnya kembali tampil di hadapan masyarakatnya sendiri.
Setelah 16 tahun berdiri, Parakuli Band membuktikan satu hal: musik lokal mungkin lahir dari ruang yang sederhana, tetapi ketika dirawat dengan konsistensi, ia mampu menjadi bagian penting dari identitas sebuah desa.
Dan sore itu, panggung Panembangan Festival menjadi ruang bagi cerita tersebut untuk kembali dimainkan—dalam bentuk musik, kebersamaan, dan kebanggaan warga Panembangan.